September 18, 2021

Delegasi Korea Selatan Bertolak ke Iran untuk Lepasan Kapal Tanker yang Disita

Delegasi Korea Selatan sedang menuju ke Iran pada Rabu (6/1/2021) untuk mengupayakan pelepasan kapal tanker bermuatan bahan kimia dan 20 awaknya yang disita di perairan Teluk oleh pasukan Garda Revolusi. Hal itu dilaporkan kantor berita Korea Selatan, Yonhap, Rabu (6/1/2021). Kementerian luar negeri Seoul telah memanggil duta besar Iran untuk Korea Selatan, pada Selasa (5/1/2021) untuk menyerukan pembebasan kapal tanker dan awaknya yang berjumlah 20 orang. Iran telah mengatakan kapal itu ditahan atas pelanggaran lingkungan.

Dalam laporan yang disampaikan kepada parlemen, kementerian luar negeri Korea Selatan mengatakan Seoul sedang meninjau dan menginvestigasi apakah kapal itu melanggar hukum internasional dengan mencemari perairan, seperti yang diklaim Teheran. Selain juga delegasi itu juga akan menginvestigasi apakah Iran melanggar aturan selama proses boarding dan penangkapan. Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan Choi Jong kun dijadwalkan mengunjungi Teheran pada Minggu mendatang. Kunjungan ini telah dijadwalkan jauh sebelum insiden ini terjadi.

Sebelumnya pertemuan Wakil Menteri Luar Negeri ditujukan untuk membahas berbagai masalah bilateral dengan Iran. Penyitaan MT Hankuk Chemi telah dipandang sebagai upaya Teheran untuk menegaskan tuntutannya, hanya dua minggu sebelum Presiden terpilih AS Joe Biden mulai menjabat. Iran ingin Biden mencabut sanksi yang dijatuhkan oleh Presiden keluar Donald Trump.

Pemerintah Korea Selatan mengatakan telah mengirim pasukan militer ke Selat Hormuz yang strategis setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), menyita sebuah kapal tanker berbendera Korea Selatan, Senin (4/1/2021). Para pejabat di Seoul juga menuntut pembebasan segera kapal itu, yang menurut pihak berwenang Iran ditahan atas dugaan pencemaran laut. Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengeluarkan pernyataan tersebut terkait kapal tanker kimia MT Hankuk Chemi, sebagaimana dilansir The Drive, Selasa (5/1/2021).

Kapal itu, yang menurut Iran membawa 7.200 ton "bahan kimia berbasis minyak," telah melakukan perjalanan dari Arab Saudi ke Uni Emirat Arab ketika IRGC mengamankannya sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Video resmi operasi menunjukkan beberapa kapal kecil Iran mengerumuni kapal tanker, yang sekarang berlabuh di dekat pelabuhan Iran, Bandar Abbas. Adapun seluruh krunya berjumlah 20 orang, terdiri lima warga negara Korea, 11 pelaut dari Myanmar, dua Warga Negara Indonesia, dan dua warga Vietnam, juga dilaporkan telah ditangkap.

IRGC mengatakan bahwa mereka telah menyita kapal, yang memiliki tonase kotor sebesar 9.797 ton, setelah menerima permintaan dari otoritas pelabuhan dan Organisasi Maritim Iran, yang bertindak atas surat perintah yang dikeluarkan oleh kantor kejaksaan provinsi Hormozgan pesisir. Hormozgan terletak di sepanjang Selat Hormuz. Insiden ini dikonfirmasi lebih lanjut oleh badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), yang memantau keamanan maritim di wilayah tersebut. Operator Hankuk Chemi yang berbasis di Korea Selatan, DM Shipping, telah membantah kapal itu melanggar protokol lingkungan apa pun.

Tidak jelas apa yang memaksa Korea Selatan mengirim pasukannya ke daerah itu dan tindakan apa yang akan mereka ambil. Pada Januari 2020, pejabat Korea Selatan mengumumkan bahwa mereka akan memperluas unit militer Cheonghae, yang sebelumnya telah difokuskan pada misi anti pembajakan di Teluk Aden bekerja sama dengan Satuan Tugas Gabungan Angkatan Laut AS yangjuga mencakup operasi di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Kapal perusak Angkatan Laut Korea Selatan membuat penyebaran rotasi untuk mendukung unit Cheonghae, dan membentuk inti dari kekuatan itu, tetapi tidak jelas kapal perang mana yang ada di wilayah itu sekarang.

Militer Korea Selatan secara teknis bukan bagian dari Konstruksi Keamanan Maritim Internasional yang dipimpin AS, yang didirikan pada tahun 2019—khusus untuk berpatroli di dalam dan sekitar Selat Hormuz dan di tempat lain di Timur Tengah dan memantau kegiatan Iran. Ini tentu bukan pertama kalinya Iran menyita sebuah kapal tanker berbendera asing di wilayah tersebut. Pada Juli 2019, IRGC juga mengambil alih kapal tanker berbendera Inggris Stena Impero, secara resmi atas dugaan melanggar aturan maritim. Pada hari yang sama, Garda Revolusi Iran juga sempat menghentikankapal tanker berbendera Liberia, Mesdar, yang dimiliki oleh perusahaan Inggris. Para pejabat Iran kemudian mengklaim mereka hanya menghentikan kapal itu untuk memberi tahu kru peraturan lingkungan dan maritim lainnya.

Reuters melaporkan, kapal tanker itu membawa kargo lebih dari 7.000 ton etanol ketika disita pada hari Senin (4/1/2021) seperti dikatakan media Iran karena melakukan pelanggaran polusi di perairan laut. Kementerian luar negeri Seoul juga sudah memanggil duta besar Iran untuk Korea Selatan guna mendesak pembebasan kapal tanker berbendera Korea Selatan dan krunya yang berjumlah 20 orang. Ditanya tentang status awak kapal sebelum pertemuannya di kementerian luar negeri Seoul, duta besar Iran Saeed Badamchi Shabestari mengatakan kepada wartawan, "semuanya aman".( Yonhap/Reuters/Koresa Herald)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *